Dampak Jika Anak Gunakan Internet Tanpa Pendampingan

Tips Mengurangi Kecanduan Gadget Pada Anak

Orang tua pasti tau ya bahwa sekarang sudah memasuki era teknologi modern. Apa-apa serba modern. Misalnya saja smartphone yang setiap saat selalu ada seri keluaran terbaru. Anak Anda pun tidak mau ketinggalan jaman, dia juga ingin menggunakan smartphone entah apa merk nya. Nah, dengan smartphone ini si anak bisa mencari berbagai informasi melalui internet. Tidak hanya smartphone saja yang bisa dihubungkan internet, komputer rumah ataupun laptop pun bisa terhubung internet jika memang ada jaringannya. Namun paling mudah memang menggunakan smartphone.

 

Dengan smartphone ini, si anak jadi mahir berselancar di dunia maya. Mereka bebas mencari tahu pengetahuan yang ingin mereka cari. Kalau dulu selalu harus mencari di buku, sekarang cukup berselancar saja di dunia maya untuk mendapatkan informasi dengan cepat. Walaupun dengan begitu, keberadaan buku tetap penting ya untuk sumber belajar.

 

Nah, siapa sih yang tidak bangga jika anaknya pintar mengggunakan internet? Beberapa orang tua mungkin bangga jika anaknya sangat mahir berselancar di dunia maya. Namun harus dipahami juga bahwa dunia maya yang tanpa batas pun bisa membuat tersesat. Karena itu penting untuk memberi pendampingan bagi anak saat menggunakan internet.

Tersesat di sini maksudnya anak jadi tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang hoax (kabar palsu) karena mereka cenderung percaya pada semua hal yang didapat dari internet. Berbahaya bukan? Inilah beberapa hasil penelitian Ofcom tentang dampak penggunaan internet di kalangan anak-anak.

Penelitan Ofcom menunjukkan jumlah anak yang terlalu percaya dengan apa yang mereka baca secara online mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Risiko yang mungkin terjadi dari hal ini adalah anak-anak akan tumbuh dan tidak mampu menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Hampir satu dari 10 anak yang memakai internet percaya bahwa semua yang ada di internet adalah benar. Serta kebanyakan anak usia 12-15 tahun tidak sadar bahwa ‘vloggers’ (video bloggers) ataupun artikel-artikel lain yang bertebaran di dunia maya bisa dibayar untuk melakukan promosi terhadap produk. Artinya kebanyakan anak-anak tidak sadar bahwa informasi yang ada di internet bisa ada karena membayar, tanpa tahu kebenarannya. Hampir 5 orang dari anak 12-15 tahun percaya dengan informasi yang didapat dari mesin pencari Google.

Studi Ofcom juga menemukan anak-anak banyak yang beralih ke YouTube untuk informasi yang lebih akurat. Tetapi hanya setengah yang sadar bahwa iklan juga sumber penghasilan utama bagi YouTube. Dalam studi Ofcom juga menemukan bahwa tiga perempat anak-anak yang lebih tua percaya bahwa orang akan bertingkah laku berbeda saat online. 67% anak perempuan yang lebih tua mengatakan hal itulah yang tidak dia sukai. Hampir sepertiga mereka bermasalah dengan orang yang kerap bergosip, dan seperempat mengatakan orang bisa menjadi menjijikan dan jahat saat menggunakan internet.
Dilaporkan juga sekitar satu dari 10 anak yang bermain internet pada usia 8sampai 15 tahun tidak suka menghabiskan waktu lama di depan komputer. Sementara hampir sepertiga anak usia 12 sampai 15 tahun mengaku menghabiskan banyak waktu di sosial media. . Lebih baik si anak diajak bermain keluar daripada terus-terusan menghabiskan waktunya untuk berselancar di dunia maya. Kegiatan outdoor jauh lebih bermanfaat daripada bermain di social media.
Mayoritas dari anak yang terlibat dalam penelitian mengatakan akan memberitahu orang tua, anggota keluarga, serta guru jika melihat di internet sesuatu yang mengkhawatirkan, menjijikan dan menyinggung. Sedangkan 6 % menyebut tidak akan memberitahu siapapun.

 

Hal ini dapat orang tua buktikan langsungĀ  dengan mencoba menelurusi dunia maya, misalnya social media anak Anda. Jaman sekarang banyak sekali hal-hal yang berbeda dengan aslinya. Maka dari itu tetap butuh pendampingan orang tua ataupun orang dewasa ketika si anak ingin menggunakan internet. Selain itu, cobalah batasi waktu penggunaannya. Semoga bermanfaat.