Memahami Alur Pikiran Anak

Seringkali kita sebagai orang tua merasa tidak dekat dengan anak kita. Begitu pula sebaliknya, seringkali anak merasa tidak dekat dengan orang tuanya. Padahal hubungan antara orang tua dan anak adalah hubungan yang sangat penting yang memerlukan kedekatan yang intim.

Ada beberapa hal yang dapat menjadi hambatan dalam hubungan antara orang tua dan anak. Beberapa hambatan itu antara lain adalah kesibukan orang tua yang padat, serta bisa juga karena pemikiran anak dan orang tua yang berbeda. Kedua hambatan tersebut tak semesti nya menjadi penghalang bagi kita sebagai orang tua untuk bisa menjalin hubungan dekat dengan anak kita.

Salah satu sebab yang menjadi peretak hubungan antara orang tua dan anak adalah perbedaan pemikiran. Baik orang tua dan anak seringkali memandang segala permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Apa yang menurut anak benar belum tentu benaar menurut orang tua. Begitu pula dengan apa yang menurut orang tua benaar belum tentu benar menurut anak.

Perbedaan pikiran dan sudut pandang ini akan menghasilkan ide yang berbeda, keyakinan yang berbeda, serta banyak hal pula yang menjadi berbeda. Sebenarnya perbedaan itu adalah simbol keaayaan. Sebenarnya perbedaan itu bisa menjadi ajang bagi kita sebagai orang tua untuk bisa belajar lebih memahami anak kita. Akan tetapi sayangnya baik orang tua dan anak seringkali tak memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.

Perbedaan itu justru akhirnya lebih berpotensi sebagai sebuah perpecahan, menciptakan jarank yang merenggangkan hubungan antara orang tuaa dan anak. Pemikiran yang berbeda juga dapat menimbulkan keadaan tertutup bagi seorang anak. Ya, perbedaan pikiran membuat anak menjadi tertutup.

Ia akan merasa canggung untuk bercerita. Ia akan menganggap bahwa orang tuanya tak akan pernah benar-benaar mendengarkan ceritanya. Dan ia akan merasa bahwa tak ada gunanya bercerita pada orang tua. Tentu orang tua mana yang tak akan merasa pilu dengan sifat ini?

Sebenarnya apa sih yang menjadi pemicu perbedaan pemikiran tersebut? Sebelum kita menyalahkan anak kita, ada baiknya kita mengintrospeksi diri sendiri. Apa yang salah dengan diri kita sebagai orang tua?

Anak memang memiliki jalan pikiran yang berbeda dengan orang dewasa. Kita harus tahu benar tentang hal itu. Mengapa anak cenderung tidak sabaran daripada orang dewasa? Itu karena dunia di mata anak hanya berlangsung satu hari, yaaitu pada hari itu juga. Anak tidak berpikir akan adanya hari esok.

Mereka melakukan apa pun yang mereka ingin lakukan hari itu juga. Mereka tak mengenal kata menunggu. Inilah mengapa anak akan sangat bersedih ketika orang tuanya tidak menepati janji dan menunda hal yang sangat ingin dilakukan anak.

Orang dewasa bisa saja menunda untuk jalan-jalan di hari Minggu karena cuaca panas dan berencana menggantinya di hari lain. Tapi bagi anak, kalau tidak dilakukan saat itu jugaa, maka tak ada kesempatan lain lagi.

Dunia anak juga penuh dengan imajinasi. Tak heran jika ia sering mencetuskan ide yang konyol. Jangan pernah menertawakaan ide anak. Hal itu akan membuat anak merasa diremehkan dan dianggap tidaak penting. Bagi mereka, hal konyol itu sama pentingnya laayaknya urusan pekerjaan bagi kita.

Cobalah pahami mereka. Cobalah masuk ke dalam dunia fantasi mereka. Anda mungkin akan susah memahaminya. Jika memang susah, maka cobalah membaca dongeng anak-anak. Membaca dongeng bisa membuat pikiran anda kembali jernih dan mampu memahami dunia anak lebih baik lagi.

Jika anda menganggap pemikiran anak tersebut tidak layak atau tidak sopan , jangan serta merta memarahinya. Memarahi dengan keras hanya akan membuat anak menyimpan rasa benci dan menjadi semakin tertutup. Malah bisa jadi ia memberontak dan semakin berulah. Anda cukup menegur dan menasihatinya dengan halus.

Sesungguhnya anak adalah makhluk yang masih sangat mudah untuk diberi pemahaman, asal dengan cara yang tepat.

Nah, sudahkah anda belajar memahami alur pikiran anak anda?