Peran DHA EPA ERA pada Perkembangan Otak dan Tubuh Anak

perkembangan otak anak usia dini

Setiap orang tua pasti menginginkan tumbuh kembang anak yang optimal. Dalam sharing kali ini kita akan membahas pertumbuhan otak anak yang optimal dan bagaimana cara mengoptimalkannya.

Berdasarkan studi di berbagai negara, dikatakan bahwa perkembangan otak anak mengalami periode keemasan pada usia 0-2 tahun. Masa keemasan yang dimaksud disini adalah masa perkembangan otak yang paling optimal dan signifikan disepanjang hidupnya. Otak manusia tersusun dari unit sel terkecil yang disebut neuron. Seiring bertambahnya usia, neuron akan berkembang baik dari ukuran maupun jumlahnya. Jalannya rangsang disampaikan dari satu neuron ke neuron yang lain. Dengan kata lain, semakin banyak jumlah neuron, semakin baik pula jalannya rangsang, dan semakin baik pula respon dan daya pikir seseorang.

Anak usia 0-2 tahun dapat dikatakan berada dalam kondisi vital, maksudnya kondisi fisik dan psikologis anak pada usia ini merupakan fondasi yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan di usia selanjutnya.

Pada waktu bayi masih berada dalam kandungan ibunya, telah terbentuk sekitar 1,5 miliar sel-sel syaraf per menit. Jadi pada saat dilahirkan, kemungkinan bayi telah memiliki semua sel-sel otak yang dimiliki sepanjang hidupnya. Akan tetapi sel-sel otak tersebut masih belum matang dan lemah. Seiring pertumbuhan fisiknya, sel-sel otak tersebut akan berkembang pesat hingga usia 2 tahun. Semula berat otak bayi sekitar 25% dari berat otak dewasanya, dan akan berubah menjadi 75% dari otak dewasanya saat berusia 2 tahun.

Gambaran perkembangan sel neuron otak anak pada periode keemasan (mulai dari bayi usia 0 sampai usia 2  tahun) dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

perkembangan otak anak usia dini

Dari gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa pada periode keemasan terjadi pertumbuhan yang luar biasa dari sel-sel neuron otak anak sehingga pada periode tersebut para orang tua diharapkan mampu mengoptimalkan pertumbuhan otak anaknya.

Berbagai penelitian menyebutkan peran DHA (Asam Dokosaheksaenoat), EPA (Asam Eikosapentaenoat), dan AA atau ARA (Asam Arakhidonat) dalam pertumbuhan otak dan pertumbuhan fisik anak. DHA, EPA, dan ARA merupakan turunan asam lemak esensial yaitu asam lemak yang dibutuhkan oleh tubuh namun tidak dapat diproduksi oleh tubuh. Lalu bagaimana cara mendapatkannya? Tentu saja dengan asupan makanan dari luar. DHA dan EPA merupakan turunan asam lemak omega-3 sedangkan AA atau ARA merupakan turunan asam lemak omega-6. DHA, EPA dan ARA banyak terkandung dalam makanan seperti kacang-kacangan, ikan tuna, salmon, dan beberapa macam seafood lainnya.

DHA, EPA, dan ARA merupakan bahan utama dalam pembentukan serabut saraf pada neuron di otak. Oleh karena itu, baik pada ibu hamil maupun pada bayi dan anak selalu disarankan untuk mengonsumsi ketiga jenis asam lemak esensial tersebut karena seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa pembentukan otak bayi dimulai ketika masa kehamilan trimester pertama. Selain pada makanan, ketiga jenis asam lemak esensial tersebut juga biasa kita temui pada susu ibu hamil, susu formula anak, dan suplemen anak.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa salah satu faktor resiko terjadinya autisme maupun hiperaktif disebabkan kurangnya asupan ketiga jenis asam lemak esensial ini. Beberapa penelitian lain mengaitkan antara suplementasi DHA, EPA, dan ARA terhadap IQ anak yang hasilnya menunjukkan kemampuan problem solving anak yang diberikan suplementasi DHA, EPA, dan ARA dalam jumlah yang cukup dan seimbang ternyata lebih baik dibandingkan yang tidak mendapat asupan maupun mendapat asupan dalam jumlah yang kurang.

DHA, EPA, dan ARA dalam tubuh dibutuhkan dalam jumlah yang seimbang. Mengapa? Serangkaian aktivitas fisiologis tubuh diperlukan dalam kondisi yang seimbang, misalnya terjadinya vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan terjadinya vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah). Keduanya sedikit banyak dipengaruhi oleh ketiga asam lemak esensial tersebut. DHA dan EPA di dalam tubuh akan diproses menjadi suatu senyawa yang menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah, sedangkan ARA diperlukan untuk membentuk suatu senyawa yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. DHA dan EPA berperan sebagai anti peradangan sedangkan ARA berperan dalam proses peradangan, dan berbagai macam aktivitas fisiologis lainnya. Apabila tidak seimbang, maka kondisi fisiologis tubuh pun menjadi tidak seimbang.