Keterlambatan Berjalan Pada Anak Bagian 1: Pengertian dan Penyebab

Keterlambatan Berjalan Pada Anak

Menurut Anda, usia berapa bulan kah si anak mulai belajar berjalan? Tahukan Anda bahwa kebanyakan orang tua mengharapkan anaknya bisa berjalan lebih cepat dibanding anak lainnya? Ya, memang orang tua mengharapkan hal itu, namun ternyata perkembangan motorik khususnya kemampuan berjalan usia normal sebenarnya bervariasi mulai dari usia 9 bulan sampai 18 bulan. Lalu bagaimana jika si anak sudah berusia 18 bulan namun belum bisa berjalan juga? Orang tua pasti khawatir ya. Saat si anak berusia 15-18 bulan, sebenarnya ini masih dalam batas wajar. Namun biasanya si anak mempunyai gangguan motorik kasar dan gangguan keseimbangan yang ringan yang akan lebih baik diberikan intervensi dan stimulasi sejak dini. Seringkali orangtua atau beberapa dokter menganggap anak tidak percaya diri atau trauma saat berjalan. Sebaiknya, orangtua memerhatikan perkembangan motorik kasar, gangguan vestibularis dan gangguan sensoris pada anak yang sering menjadi penyebab anak terlambat berjalan.

 

Tahap perkembangan gerakan motorik normal

– 6-8 bulan          : Duduk dan merangkak dengan dua dengkul kaki.

– 12-18 bulan      : Berdiri tanpa bantuan, Berjalan dengan merambat ke perabotan di rumah, Berjalan 2 atau 3 langkah tanpa bantuan, Berjalan 10-20 menit tanpa bantuan.

– 18-24 bulan      : Berjalan tanpa kesulitan, Menarik mainan sambil berjalan, Membawa mainan besar sambil berjalan, Naik/turun bangku tanpa bantuan, Menemukan cara sendiri untuk berjalan mundur, Bisa naik/turun tangga dengan bantuan.

– 24-36 bulan      : Umumnya mampu memanjat dengan baik, berjalan naik/turun tangga dengan menggunakan satu kaki per anak tangga, Berjalan jinjit.

Penyebab Anak Terlambat Berjalan

  1. Ketidakmatangan Persyarafan

Kemampuan anak melakukan gerakan motorik sangat ditentukan oleh kematangan syaraf yang mengatur gerakan tersebut. Pada waktu anak dilahirkan, syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syarat belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya, yaitu mengontrol gerakan-gerakan motorik. Pada usia ± 5 tahun, syaraf-syaraf ini sudah mencapai kematangan, dan menstimulasi berbagai kegiatan motorik.

 

  1. Gangguan Vestibularis atau Keseimbangan

Pada anak yang mengalami dysfunction of sensory integration (DSI) akan mengalami gangguan keseimbangan. Hal ini seringkali dianggap karena anak kurang percaya diri. Gangguan keseimbangan ini biasanya ditandai dengan anak takut saat berenang, menaiki mainan yang bergerak dan bergoyang seperti ayunan, mainan kuda-kudaan listrik dengan koin, naik lift atau eskalator. Anak yang underreactive untuk input vestibular tampaknya tidak pusing bahkan setelah berputar untuk waktu yang lama, dan tampaknya menikmati gerakan cepat seperti berayun. Bila berjalan terburu-buru, gerakannya canggung, mudah tersandung atau jatuh. Anak tampak kesulitan memegang kepalanya sambil duduk. Anak tidak cenderung untuk melakukannya dengan baik dalam olahraga. Dia mungkin memiliki gaya canggung, atau gerakan yang tidak biasa ketika bergerak lengan atau kepala. Biasanya juga disertai keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan persepsi visual-spasial yang khas.

 

  1. Keterlambatan Ringan Perkembangan Motorik Kasar

Seorang anak yang terlambat berjalan, kemungkinan juga terlambat dalam duduk dan merangkak. Coba ingat lagi kapan anak Anda mulai mencoba duduk dan merangkak. Namun sayangnya, keterlambatan ini bukanlah hal pertama yang mungkin disadari oleh para orangtua. Iya kan? Jika ini penyebabnya, maka dokter akan melihat jalan anak dalam konteks yang berbeda dan mencari tahu berada dimana ia dalam rangkaian perkembangan motoriknya.

 

  1. Gangguan Sensoris
    Pada kasus tertentu, anak sering mengalami sensitif pada telapak tangan dan kaki sehingga mengakibatkan anak sering jinjit. Meskipun hal ini bukan karena kelainan anatomis. Maka dari itu biasanya orangtua menganggap hal itu adalah memang perilaku anak. Pada anak dengan gangguan sensoris raba biasanya disetai gangguan sensoris suara dan cahaya. Gangguan sensoris suara biasanya anak takut dan tidak nyaman ketika mendengar suara dengan frekuensi tertentu seperti suara blender, suara bayi menangis, suara gergaji listrik. Sedangkan gangguan sensoris cahaya biasanya anak sangat sensitif terhadap cahaya terang dan sinar matahari.