Hiperaktif pada Anak

Hiperaktif pada Anak

Sering kita mendengar istilah anak hiperaktif dalam kehidupan sehari-hari. Tentu kita bertanya-tanya, tingkat aktivitas anak yang seperti apa yang dapat dikatakan hiperaktif? Bagi sebagian besar orang tua mungkin akan bingung membedakan perilaku hiperaktif karena memang anak pada usia pra sekolah maupun usia sekolah cenderung aktif.

Hiperaktif dalam bahasa medis dikenal dengan istilah ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) yang merupakan suatu kondisi yang terlihat jelas pada anak usia pra-sekolah maupun usia awal sekolah. ADHD pertama kali dipaparkan oleh Dr. Heinrich Hoffman di tahun 1845 yang mana menggambarkan suatu kondisi dimana seorang anah sulit untuk mengontrol sikap maupun memusatkan perhatian. Angka kejadian ADHD cukup tinggi yaitu terjadi pada 11% anak usia sekolah, dan 75% dari kasus ADHD pada anak berlanjut sampai usia dewasa.

Berdasarkan gejala yang terlihat, dokter mengklasifikasikan ADHD menjadi 3 tipe, yaitu: tipe dominan hiperaktif-impulsif dimana seorang anak menunjukkan sikap hiperaktif dan impulsif namun masih dapat memperhatikan, tipe dominan inattentive (kurang memperhatikan), dan tipe kombinasi yang merupakan gabungan dari kedua tipe yang lain. Nah, mari kita bahas satu persatu mengenai gejala ADHD.

  • Anak hiperaktif terlihat tidak bisa berhenti bergerak atau beraktivitas, mereka berlarian dan menyentuh maupun bermain dengan apa yang terlihat didepan mata, terkadang juga berbicara tanpa henti. Mereka merasa sulit untuk tetap duduk ketika jam pelajaran di sekolah maupun ketika sedang makan.
  • Anak impulsif cenderung tidak berpikir dahulu sebelum mereka bertindak, mereka cenderung melemparkan komentar apapun, memperlihatkan emosi mereka tanpa menahan diri, dan bertindak tanpa memikirkan konsekuensi. Anak impulsif cenderung sulit dalam hal menunggu, contohnya menunggu giliran dalam suatu permainan. Mereka cenderung mengambil mainan anak lain dan memukul ketika merasa kecewa.
  • Anak inattentive cenderung merasa sulit dalam memusatkan perhatian mereka pada satu hal dan dalam dalam mengerjakan suatu tugas cenderung merasa bosan hanya dalam hitungan menit. PR akan menjadi hal yang sangat sulit bagi mereka, jika berhasil dikerjakan pun biasanya PR akan tampak banyak kesalahan dan perbaikan. Hal ini dapat membuat kedua belah pihak baik anak maupun orang tua merasa frustasi.

Namun perlu anda ketahui, tidak semua anak yang terlihat sangat hiperaktif, tidak memperhatikan, maupun bersikap impulsif menderita ADHD karena setiap anak menunjukkan sikap-sikap tersebut pada usia-usia tertentu. Untuk memastikan hal tersebut, anda dapat berkonsultasi dengan para ahli seperti psikiater, psikolog, dokter anak, dokter spesialis saraf, maupun lembaga social tertentu yang bergerak di bidang ini. Untuk menilai apakah seorang anak menderita ADHD, tentu saja para ahli akan memiliki berbagai pertimbangan. Apakah kondisi tersebut berlangsung cukup parah dan telah berlangsung dalam waktu lama, apakah frekuensi munculnya lebih sering dibandingkan anak lain dengan usia yang sama,  apakah anak memperlihatkan gejala hanya ditempat-tempat tertentu (misalnya hanya di sekolah) atau hampir di semua tempat, dan berbagai penilaian lainnya.

Berdasarkan beberapa penelitian, dipaparkan berbagai faktor yang dapat menyebabkan ADHD antara lain faktor lingkungan seperti kebiasaan merokok dan minum alkohol selama kehamilan ataupun paparan timah, terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan otak, gula dan perisa makanan, serta faktor genetik.

ADHD pada anak memerlukan terapi yang cukup kompleks dan sangat melibatkan peran orang tua. Selain itu sangat penting dilakukan edukasi pada anak maupun pada orang tua mengenai diagnosa dan terapinya. Orang tua yang anaknya menderita ADHD akan diberikan pelatihan mengenai cara mengontrol perilaku anak. Selain itu diberikan juga terapi dengan obat-obatan tertentu, dukungan dari sekolah juga sangat diperlukan, dan yang terakhir adalah terapi bagi anak dan keluarga tentang bagaimana mengatasi stress dan rasa frustasi.