Bebaskan Anak Berekspresi

bebaskan-anak-berekspresi

Usia satu sampai tiga tahun seringkali disebut sebagai golden age pertama bagi anak. Sedangkan, usia tiga sampai lima tahun sering disebut sebagai golden age kedua bagi anak. Sebenarnya apa sih golden age itu? Golden age adalah periode ketika sistem saraf anak berkembang sangat pesat. Perkembangan yang sangat pesat inilah yang sungguh sayang untuk dilewaatkan begitu saja. Rangsangan dan intervensi dini sangat dianjurkan pada periode emas ini.

Seperti apakah rangsangan dan intervensi dini tersebut? Sebenarnya ada banyak sekali rangsangan yang bisa dilakukan, seperti mengajarkan anak berbahasa asing, melatih bermain music, maupun memberikan pendidikan akhlak sejak dini. Namun membebaskan anak untuk berekspresi juga merupakan salah satu cara untuk memacu perkembangan sistem saraf anak.

Mengapa kebebasan berekspresi itu penting? Karena kebebasan berekspresi dapat menentramkan jiwa seseorang. Apalagi anak yang masih dalam tahap pencarian jati diri, mereka tentu memiliki lebih banyak ekspresi daripada kita yang sudah menspesialisasikan diri pada bidang masing-masing.

Kebebasan berekspresi juga mampu membuka wawasan anak. Semakin jiwa dan pikirannya bebas, semakin banyak hal yang akan ia temui. Teman-teman baru, ilmu baru, pengalaman baru, juga kesenangan baru. Bukankah haal-haal demikian pula yang bisa menjadi guru terbaik bagi seseorang? Anak akan melihat dunia luar dengan sudut pandang yang lebih luas lagi. Bahkan bukan mustahil jika anak bisa mengungguli kita sebagai orang tua.

Wawasan yang luas tersebut akan menumbuhkan kebijaksanaan dalam diri anak. Wawasan yang luas membuat anak belajar dari banyak hal, termasuk dari pengalaman dan kesalahan-kesalahan terdahulu mereka. Dan tanpa disadari, dengan belajar dari pengalaman dan kesalahan, mereka telah belajar untuk menjadi sosok yang bijaksana. Yang baik budi pekertinya, yang santun perilakunya, mulia akhlaknya, serta cerdas dalam ilmu pengetahuan.

Seringkali sebagai orang tua yang terlalu sibuk bekerja di luar rumah, kita lalai untuk mengajarkan hal-hal tersebut. Tapi alangkah bahagianya orang tua jika mengetahui anak bisa mempelajari hal-hal tersebut secara mandiri, tanpa bantuan dari orang tua. Dari mana mereka belajar semua hal itu? Dari pengalaman dan kesalahan mereka. Dan dari mana mereka mendapaatkan pengalaman dan kesalahan itu? Dari kebebasan berekspresi.

Anak-anak berada dalam masa ketika ada begitu banyak gagasan dalam otak mereka. Hal ini memicu mereka untuk segera mengeluarkan gagasan tersebut. Gagasan tersebut aakan keluar dalam bentuk ekspresi. Ekspresi seorang anak memang cenderung meluap-luap dan itu seringkali membuat orang tua jengkel dan kewalahan.

Akan tetapi hendaknya kita sebagai orang tua tetap sabar dan menyikapinya dengan bijaksana. Ekspresi yang meluap-luap memang wajar bagi seorang anak. Kita dulu juga sama halnya dengan mereka. Semestinya bukannya memenjarakan, ekspresi tersebut justru mesti dikeluarkan dan ditampung pada wadah yang tepat.

Misalnya jika anak suka berteriak-teriak, jangan hanya memarahinya. Cobalah masukkan ia ke sekolah vocal. Barangkali kenakalannya bisa menjadi anugerah yang kelak bisa menolongnya.

Percaya atau tidak, ekspresi yang meluap-luap tersebut akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Seiring dengan proses pendewasaan yang mereka alami. Bahkan bisa saja kelak kita merindukan kenakalan mereka. Jadi jika tidak hari ini keika mereka masih anak-anak, kapan lagi kita bisa membebaskan mereka berekspresi? Orang dewasa sudah jauh berbeda dengan anak-anak. Mereka cenderung realistis dan mengekang diri mereka sendiri.

Nah, itulah keutamaan dari membebaskan anak kita berekspresi. Tidak semua hal yang salah akan tetap menjadi salah bila kita menyikapi dan menempatkannya denagn benar. Bimbinglah anak anda sebaik mungkin. Berilah mereka pendidikan yang mampu mengantarkan mereka pada kebaikan diri mereka sendiri kelak, dengan semaksimal mungkin.

Karena anak adalah titipan paling berharga dari Sang Pencipta untuk kita jaga dengan sebaik mungkin.